PMKRI Tondano Kecam Tindakan Aparat Bubarkan Festani Kelelondey

1 min read

Tondano- Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, masyarakat sekitar perkebunan Kelelondey dan Solidaritas Kelelondey Memanggil (SKM) hendak melaksanakan Festival Petani Bumi Kelelondey tahun 2020. Tujuan kegiatan festival itu adalah tetap mempererat tali persaudaraan, mempertahankan budaya Mapalus dan menjaga kerukunan antar warga masyarakat.

Hari Sumpah Pemuda yang berusia 92 tahun itu menjadi momen yang bersejarah dan penting, serta tidak lepas dari kontribusi nyata para pemuda untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan di Indonesia yang diikrarkan tahun 1928 silam.

Aparat Gabungan bersama Pemerintah Kecamatan ketika mencegat kegiatan Festival Petani Bumi Kelelondey Tahun 2020 yang akan dilakukan di Desa Raringis, Langowan. (Foto: PMKRI Tondano)

Akan tetapi, festival untuk memperingati momen bersejarah yang dijadwalkan akan dilakukan pada pukul 13.00 Wita di Desa Raringis Utara, Langowan Barat, Minahasa, Sulawesi Utara, itu dihadang oleh aparat keamanan yang terdiri dari Polri, TNI, Sat Pol PP.

Tak hanya itu, pemerintah kecamatan dalam hal ini Langoan Barat tidak menunjukkan keberpihakannya pada masyarakat petani dan hanya berdiam diri mengikuti alasan aparat keamanan.

Alasan yang disampaikan aparat keamanan adalah pandemi Covid-19, dan tidak memberikan izin pelaksanaan festival. Bahkan, aparat keamanan membubarkan dan membongkar perlengkapan yang telah dipersiapkan masyarakat untuk melaksanakan festival.

Selain itu, Koordinator SKM berinisial RM hampir digiring dan ditangkap aparat keamanan untuk menanyakan perihal pelaksanaan kegiatan festival.

Hingga pukul 16.00 Wita, aparat gabungan telah meninggalkan lokasi kegiatan. Akan tetapi, terlihat sejumlah intel maupun polisi yang masih berada di sekitar lokasi kegiatan festival untuk memantau gerak-gerik masyarakat.

Ketika lokasi kegiatan steril dari aparat keamanan, masyarakat dan gabungan SKM melanjutkan festival di perkebunan Kelelondey yang terletak di Desa Ampreng.

Sebelumnya, sekitar pukul. 10.00 Wita, beberapa perwakilan dari SKM diminta bernegosiasi dengan aparat keamanan di luar lokasi. Usaha-usaha negosiasi sudah dilakukan, tetapi sikap dari aparat keamanan tetap sama yaitu menghadang.

Melihat keadaan di atas, maka kami PMKRI Cabang Tondano Santo Paulus menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Mengutuk keras tindakan pembubaran oleh aparat terhadap masyarakat
  2. Meminta kepada Pemerintah Provinsi untuk serius menyelesaikan permasalahan perkebunan Kelelondey.
  3. Kami akan tetap berjuang dengan terlibat dan berpihak kepada masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan perkebunan Kelelondey.

Tondano, 30 Oktober 2020

Ketua Presidium PMKRI Tondano, Anthoni Talubun

Presidium Gerakan Kemasyarakatan, Joni Anari

Informasi PMKRI Tondano dapat dilihat melalui pmkritondano.or.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *